SEPMI : Agent Social Change (Milad 58 Tahun)

Share:


Oleh : Anwar MMSA (Ketua DPP SEPMI 1987-1991, Koor.Exec.Eksponen SESMI Pusat, Alumni Pasca Sarjana UNJ Prodi Sejarah)

Mengenal Perjuangan SEPMI

Dalam terminology sosiologis dalam masyarakat tidak ada yang tetap, yang tetap adalah perubahan itu sendiri, perubahan sosial disamping digerakkan oleh individu juga digerakkan oleh organisasi. Di Indonesia setelah dekrit presiden 5 juli 1959, kehidupan masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi antitesa dari demokrasi parlementer menjadi demokrasi terpimpin, dominasi eksekutif masuk ke berbagai lini kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Salah satunya dominasi anasir-anasir komunis dilegitimasi yang kita kenal dengan NASAKOM, pelajar tidak luput dari infiltrasi,semua  serba ditunggalkan,semua pergerakan kepanduan dari ormas-ormas (SIAP,HIZBUIWATHON dll) digabung menjadi PRAMUKA puncaknya tahun 1961. Dengan dileburnya Syarikat Islam Angkatan Pandu (SIAP) kedalam Pramuka pada tahun 1961, maka pelajar Syarikat Islam perlu suatu wadah atau saluran organisasi "seasas" Partai Syarikat Islam Indonesia diberbagai daerah punya kepanduan pelajar yang diberi nama SIAP (syarikat islam angkatan pandu),juga punya organisasi pelajar seperti AMUSI(angkatan muda syarikat islam),IPSI(ikatan pelajar syarikat islam), IPMI (ikatan pelajar muslimin indonesia), pelajar muslimin indonesia.

Latar belakang situasional, kondisional, partisipasional dan tuntutan perubahan sosial menjadikan generasi muda syarikat islam mendeklarasikan diri untuk pelajar kaum syarikat islam bersatu dalam satu wadah Serikat Pelajar Muslimin Indonesia(SEPMI) tahun 1963 diberbagai daerah Jakarta, Bandung, Banjarnegara, Surabaya, Batang dan diberbagai daerah yang menjadi basis kaum syarikat islam indonesia.

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh pelajar muslimin yang dihalangi, dihambat dan dibubarkan bahkan dianiaya. Aktivis SEPMI banyak berperan dalam masyarakat untuk mencerahkan, menjaga dan melindungi masyarakat dari infiltrasi komunis,di: Jakarta: Darimy Yusuf, A Rivai Djaelani, Muhammad Mufti, Zen Munajat, Dewi Apun, Muhaimin, Aries Luhuri Kota/Kab.Bandung: Amaruddin Jajasubita, KSukarna, Ohan Sujana Kab.Banjarnegara: Syahid M, Agus Junaedi, Siti Djuwairiyah,Hamzah Ghozali, Taufiq Suaidy, Imam Yudiantoro, Imam Sujudi, Hudiono Sularso, Masdar Mawardi, Muchtarom Surabaya: Muhammad Nur, Suwardi PS, Probolinggo: Partiyah, Husniyah, Kab.Batang : M.Nur, Mubaas, Sugiono Garut: EKamil, U.Syamsudin Tasikmalaya: DedeKusdoyo, Serang: Djejen Zaenal, Sukabumi: Ahmad Rifai, Danu Ismail Semarang: Arief Istamam.

Romantisme Perjuangan SEPMI

(1961-1966)

Kajian ini bertujuan mengelaborasi peranan organisasi SEPMI (Serkat Pelajar Muslimin Indonesia) dan sumbangannya dalam agen perubahan social(agent social change,dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan sejarah dan kajian perubahan sosial. Hasil kajian menunjukan bahwa peranan dan sumbangan SEPMI yang paling signifikan, di tengah-tengah gerakan Islam Indonesia, adalah gerakan perubahan social masyarakat dalam dakwah dan pendidikan yang bertujuan mencetak pribadi muslim berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnaj Rasululloh yang nyata.

SEPMI merupakan organisasi pelajara muslim yang lahir sebagai tanggung jawab dakwah ummat ditengah rejim yang sentralistik yang ingin menihilkan keberagaman gerakan kepanduan pelajar yang akar historis sudah beragam, dan kecenderungan monoloyalitas tunggal (NASAKOM) dan dalam suasana heroiknya kaum pemuda pelajar melawan kedzoliman dan kesewenangwenangan penguasa Demokrasi Terpimpin(Orde Lama) di Indonesia. Karena SEPMI merupakan organisasi yang tumbuh dan berkembang dalam lanskap sosial dan politik Indonesia, maka SEPMI merupakan organisasi yang berbeda dengan yang ada di negara-negara Muslim lainnya di dunia.

Dari pengalaman dan perjalanan sejarahnya yang panjang dan penuh dinamika itu, SEPMI memiliki corak pemikiran dan dakwah yang khas, yakni usaha untuk melaksanakan nilai-nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an dalam suatu kerangka piker,gerak dan paradigma, yang bisa dirumuskan dalam visi, misi, dan program yang nyata. Berdasarkan kerangka pikir dan paradigma khas tersebut, yaitu mengintegrasikan nilai-nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an, dengan karakteristiknya, maka SEPMI bisa memberikan solusi terhadap masalah dan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam dan dinamis ini.

 

Sebagai bagian tubuh PSII, SEPMI senantiasa bersebrangan dengan Gagasan NASAKOM, PKI dan ormas-ormasnya, SEPMI menjadi garda terdepan melawan PKI, ketika Partai ini mencoba mengadakan kudeta dengan G.30 S/PKI.  Sebagai wadah gerakan pelajar Muslim , SEPMI terpanggil untuk turut berperan dalam upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa” sesuai amanah Pembukaan Konstitusi RI 1945. SEPMI adalah bagian yang tidak terpisahkan dari umat Islam dan bangsa Indonesia, karena itu sepanjang sejarah kehidupan SEPMI, SEPMI memerankan dirinya sebagai kader umat dan bangsa Indonesia. Dalam peranan inilah SEPMI menghadapi berbagai tantangan, khususnya pada tahun 1963-1966, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) berusaha untuk mencengkram Ummat Islam dan Indonesia.

Sebagai salah satu partai pemenang ke empat pemilu pertama di Indonesia (1955), Partai Komunis Indonesia dengan berbagai cara serta tipu muslihat sangat berselera untuk berkuasa di Indonesia. Hal tersebut sudah dilakukan melalui uji-coba, yang ternyata gagal, untuk merebut kekuasaan pada tahun 1948.

Berbekal hasil pemilu 1955 tersebut, niat dan tekad PKI untuk berkuasa terus berkobar. Konsepsi Presiden dan Dekrit Presiden. Peluang PKI untuk berkuasa semakin nyata dengan dua peristiwa nasional. Pertama, Bung Karno mengeluarkan Konsepsi Presiden tahun 1957 tentang perlunya suatu Kabinet Gotong Royong dengan memasukkan PKI dalam pemerintahan. Terkenal dengan semboyan “kabinet kaki empat”. Kedua, Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang memberlakukan kembali UUD 1945.

Bila selama demokrasi parlementer (tahun 1950-1959), pemerintah dipimpin oleh seorang Perdana Menteri, maka sejak 1959 hingga 1965 yang menjadi kepala negara/ kepala pemerintahan adalah seorang presiden. Dengan demikian, sejak 1959 Sukarno sepenuhnya berkuasa di Indonesia. Situasi ini dimanfaatkan oleh PKI dengan menggunakan wewenang yang dimiliki Bung Karno untuk melumpuhkan lawan-lawan politiknya. Antara lain partai Masyumi dan PSI, dengan alasan keterlibatan sejumlah tokoh-tokohnya dalam pemberontakan PRRI/Permesta (1957-1958).

Presiden Sukarno meminta ke dua partai tersebut untuk membubarkan diri. Apabila tidak bersedia, maka akan dibubarkan oleh pemerintah dan dijadikan sebagai partai terlarang. Kedua partai tersebut, dengan berbagai pertimbangan, memilih untuk membubarkan diri. Manifesto Politik dan USDEK. Setelah Dekrit Presiden 1959 yang mengembalikan Indonesia ke UUD 1945, maka Presiden Sukarno sebagai kepala pemerintahan mengeluarkan apa yang disebut sebagai manifesto politik (Manipol) serta USDEK (singkatan dari UUD 1945-Sosialisme Indonesia-Demokrasi Terpimpin-Ekonomi Terpimpin-Kepribadian Indonesia).

Sukarno menjadikan Manipol-Usdek ini sebagai haluan negara. Artinya semua partai maupun ormas harus menyesuaikan diri dengan Manipol Usdek ini, kalau tidak akan diawasi dan ditindak. Setelah Masyumi dan PSI dibubarkan, Sukarno dengan pengaruh/tekanan PKI pada tahun 1962 melakukan serangkaian penangkapan terhadap sejumlah tokoh Masyumi dan PSI, seperti Mohammad Natsir, Sutan Syahrir, Mohammad Roem, Prawoto, Anak Agung Gde Agung, Hamka, Mohammad Yunan Nasution, Isa Ansyari serta tokoh-tokoh pejuang demokrasi lainnya seperti Mochtar Lubis dan lainnya. Mereka ditahan selama 4 tahun lebih di berbagai penjara di Jakarta, Madiun, Sukabumi dan di lokasi lainnya. Mereka baru menghirup udara bebas pada tahun 1966, saat Presiden Suharto berkuasa dan membebaskan mereka.

Peluang PKI untuk berkuasa semakin menjadi kenyataan, setelah Sukarno mencetuskan gagasan yang disebut Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunisme), yaitu mempersatukan ke tiga unsur tersebut dan memasukkannya dalam pemerintahan. Gagasan inilah yang akhirnya membuka pintu selebar-lebarnya bagi PKI untuk berkuasa. Nefos dan Oldefos. Di samping Manipol Usdek sebagai kebijakan nasional, Sukarno mengumandangkan politik luar negeri yang condong ke kiri (blok komunis), dengan gagasannya Nefos dan Oldefos.Nefos (New Emerging Forces), digagas tahun 1962, merujuk kepada kenyataan bahwa sejumlah negara-negara yang menyatakan merdeka merupakan negara-negara berkembang.Sedangkan Oldefos (Old Emerging Forces), merujuk kepada negara-negara maju, yang umumnya adalah negara-negara barat, yang cenderung mempertahankan status quo. Karena itu harus dihadapi bersama oleh negara-negara Nefos.

Gagasan ini dirundingkan bersama oleh Bung Karno dan PM Cina Chou En Lai. Padahal Bung Karno selama ini dikenal sebagai pemimpin Gerakan Non Blok bersama dengan PM India Nehru, Presiden Mesir Abdul Nasser dan Presiden Yugoslavia Yosef Bros Tito. Bung Karno telah bergeser menjadi pemimpin Nefos. Rencana untuk melaksanakan Conefo yaitu Conference of New Emerging Forces belum sempat diwujudkan, namun Ganefo (Games of New Emerging Forces) berhasil dilaksanakan oleh Indonesia pada tahun 1963 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Politik Poros.  Nefos dan Oldefos ini dikembangkan terus oleh Sukarno melalui Menlu Subandrio dengan menggagas apa yang disebut sebagai politik poros pada tahun 1964, yang membuat poros antara Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Pyongyang-Peking, lima negara, Indonesia-Kamboja-Vietnam-Korea Utara-Cina. Peristiwa Utrect. PKI menyadari bahwa meskipun berbagai agenda politik tersebut telah meratakan jalan bagi PKI untuk berkuasa, namun PKI mencermati bahwa upaya untuk melumpuhkan lawan-lawan politiknya adalah merupakan agenda PKI yang harus diprioritaskan.

PKI menilai bahwa kelompok yang paling potensial dan militan yang akan berhadapan dengan PKI adalah golongan Islam.SEPMI adalah satu unsur golongan Islam yang merupakan kader umat dan kader bangsa, yang perlu diutamakan untuk dilumpuhkan. Maka berbagai kiat, strategi maupun manuver dilakukan PKI untuk melumpuhkan eksistensi dan aktivis SEPMI. Peristiwa pelarangan HMI oleh Prof. Utrecht ini kemudian dijadikan sebagai “bola liar” oleh CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia/organisasi mahasiswa bentukan PKI) untuk membubarkan HMI.

CGMI membuat front bersama membubarkan HMI bersama GMNI Asu (berasal dari PNI Asu= Ali Sastroamijoyo-Surachman), Germindo (organisasi mahasiswa dari Partindo= Partai Indonesia) serta Perhimi (organisasi mahasiswa dari BAPERKI= perkumpulan Orang-orang Tionghoa}. Ke=4 organisasi mahasiswa yang beraliran kiri inilah yang dengan gigih melancarkan kampanye untuk membubarkan HMI.

Opini Publik. Untuk memenangkan opini publik, CGMI cs berusaha membubarkan HMI dengan melakukan serangkaian tindakan, antara lain mencorat-coret tembok gedung di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, Makasar dengan tulisan “Bubarkan HMI”. Ulah anggota CGMI yang dilaksanakan pada tengah malam tersebut diwaspadai oleh aktivis-aktivis HMI di tempat-tempat tersebut. Aktivis dan kader HMI melakukan operasi menjelang fajar dengan mengganti dua huruf “Bu” menjadi “Ko”. Sehingga “Bubarkan HMI” berubah dan menjelma menjadi “Kobarkan HMI”.

Betapa kaget dan kecewanya CGMI, ketika menyaksikan ke esokan harinya, seluruh kota dipenuhi dengan tulisan “Kobarkan HMI”. Dengan demikian, harapan CGMI agar terjadi stigma negatif terhadap HMI malah berubah menjadi citra positif bagi HMI. Generasi Muda Islam. Generasi Muda Islam (Gemuis), yang dipelopori oleh GP Ansor (Jusuf Hasyim), PII,SEPMI,SEMMi,PEMUDA MUSLIM dan lain-lain menyatakan prihatin dan solidaritas terhadap situasi yang dihadapi oleh HMI.

Mereka serentak melakukan pawai keliling kota, baik di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya dengan membawa spanduk bertuliskan “Langkahi mayatku sebelum membubarkan HMI”. Tulisan yang membuat orang merinding dan membangkitkan solidaritas ini ternyata membuat PKI tersentak dan menyadari bahwa HMI, sebagai kader umat dan bangsa, adalah kelompok yang mendapat dukungan penuh oleh umat Islam dan bangsa Indonesia. KAMI. Tanggal 25 Oktober 1965 atas prakarsa Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Syarif Thayeb didirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) beranggotakan antara lain HMI, PMKRI, GMNI, GMKI, PMII, IMM, SEMMI, Mapantjas, Pelmasi, SOMAL (Imada, GMD, MMB, IMABA, PMB), untuk Kalangan Pelajar/Pemuda juga dibentuk KAPI/KAPPI beranggotakan antara lain : PII, SEPMI, PEMUDA MUSLIM, PEMUDA ANSHOR, IPM, Pemuda Muhammadiyah.

Pimpinan KAMI/KAPI/KAPPI di tingkat Pusat berbentuk Presidium. Ketua-ketua Presidium antara lain adalah Cosmas Batubara (PMKRI), Zamroni (PMII), David Napitupulu (Mapantjas), Elyas (SOMAL). Biro Politik dijabat oleh Mar’ie Muhammad (HMI), demikian pula Sekjen KAMI Pusat Nazar Nasution (HMI),Husni Thamrin (PII),Amaruddin Djajasubita (SEPMI). Pada 29 Desember 1965, menyadari kenyataan bahwa KAMI/KAPI/KAPPI adalah satu-satunya wadah mahasiswa yang representatif, maka semua organisasi mahasiswa anggota KAMI, menyepakati pembubaran PPMI dalam suatu Kongres Luar Biasa PPMI.

Salah satu prestasi KAMI/KAPI/KAPPI di tingkat nasional adalah mencetuskan TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat) dalam aksi massa tanggal 10 Januari 1966. Tritura adalah: Bubarkan PKI, Rombak Kabinet serta Turunkan Harga. Peristiwa G30S/PKI. Pada 30 September 1965 malam hari, terdenngar pengumuman lewat radio bahwa telah terbentuk Dewan Revolusi dipimpin Kolonel Untung.Karena belum jelas siapa Kolonel Untung, Dewan Revolusi dan sebagainya,aktivis KAMI?KAPPI untuk keliling kota Jakarta memantau situasi di lapangan. Sore hari diketahui bahwa Dewan Revolusi adalah bentukan PKI untuk merebut kekuasaan melalui kekuatan “Angkatan ke-5” (buruh-tani-nelayan-pemuda).KAMI/KAPPI melobi ke beberapa tokoh, antara lain Subchan ZE (PB NU),Aruji Kartawinata (PSII).

Tokoh-tokoh tersebut menyepakati untuk membentuk Kesatuan Aksi Pengganyangan G30S (KAP Gestapu), Subchan ZE. Wadah ini kemudian menjelma menjadi Front Pancasila. Unjuk kekuatan pertama oleh KAP Gestapu dilakukan pada tanggal 3 Oktober 1965 di Taman Sunda Kelapa. Bendera pendukung KAP Gestapu dan spanduk-spanduk anti komunis berkibar di lapangan tersebut, Peristiwa inilah yang mempelopori berbagai demonstrasi dan aksi untuk mengganyang dan membubarkan PKI, melibatkan sejumlah aktivis.Pembubaran PKI. Puncak gerakan dari Front Pancasila, KAMI/KAPPI dan Kesatuan-Kesatuan Aksi lain pada akhirnya berhasil dengan dibubarkannya Partai Komunis Indonesia tanggal 12 Maret 1966.

Dengan tekad perjuangan untuk menegakkan Keadilan dan Kebenaran ternyata setelah pertarungan selama 3 tahun, akhirnya PKI lah yang dibubarkan. Ini merupakan perjuangan yang gigih, bukan hanya oleh para aktivis SEPMI, tetapi dukungan segenap lapisan masyarakat, baik pemuda, intelektual dan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Killing Fields. Apa yang akan terjadi di Indonesia, apabila PKI berhasil melakukan kudeta tanggal 30 September 1965? Dari kesaksian para aktivis SEPMI yang melakukan penggeledahan di sejumlah kantor ataupun rumah tokoh-tokoh PKI di seluruh Indonesia, ditemukan dokumen-dokumen yang antara lain memuat daftar nama orang-orang anti komunis yang akan menjadi target PKI untuk dibinasakan.

Pastilah nasibnya sama dengan ke-7 perwira tinggi AD yang dibunuh dengan kejam dan dimasukkan ke Lubang Buaya. Negara Komunis ini meninggalkan sejarah kelam, yaitu “Killing Fields” (ladang pembantaian), yang menggambarkan kekejaman rezim Komunis rezim Pol Pot, yang berkuasa melalui suatu kudeta. Kalau kita punya “Lubang Buaya” dengan korban 7 orang Pahlawan Revolusi, rezim Pol Pot (yang berkuasa dari tahun 1975-1979), menunjukkan kekejamananya dengan korban jiwa hampir 2 juta orang (sepertiga dari penduduk Kamboja yang saat itu berjumlah 6 juta jiwa).

(1966-1970)

Puncak dari kesewenang-wenangan penguasa orla membiarkan PKI dan ormas-ormasnya menyusun angkatan kelima, sehingga terjadilah peristiwa kelam kudeta oleh PKI dengan Gestapunya yang gagal dengan izin Alloh SWT. Aktivis SEPMI bersama dengan kekuatan Ummat Islam lainnya dan TNI bersinergi untuk menumpas PKI dan ormas-ormasnya, sehingga keluarlah TRITURA (tiga tuntutan rakyat) 1966 dan banyak aktivis SEPMI diangkatan 66 dan KAPPI, Sdr.Amaruddin Jaja subitamen jadi Presidium KAPPI Pusat. Dan ada Kongres SEPMI 1 tahun 1967 di Jakarta Nakhoda PP SEPMI dipimpin oleh Muhammad Mufti, penetapan milad SEPMI 20 Mei 1963 juga ditetapkan pada kongres ini, SEPMI semakin eksis sebagai bagian dari agen perubahan social menyelamatkan bangsa dari rongrongan PKI dan aktif di KAPPI untuk menata kehidupan-kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekwen.

(1971-1980)

Kurun waktu ini penataan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dimana orde baru menempatkan pembangunan ekonomi menjadi panglima, sehingga sudah mulai dirancang penyederhanaan kehidupan partai politik, disisi lain pada Tahun 1970 SEPMI dapat melaksanakan Kongres Ke-2 di Bandung Jawa Barat dan Sdr. Amarudin Jaja subita terpilih menjadi Ketua Umum OPP SEPMI.

SEPMI sebagai bagian tubuh dari PSI terdampak secara psikologis terhadap penyederhanaan Kehidupan Partai Politik, kendati pada Pemilu Tahun 1971 dapat mensupport PSII sehingga memperoleh 10 kursi Parlemen.

Penyederhanaan partai politik dengan fusi partai secara rasional banyak tidak diterima oleh partai politik, partai politik banyak berfikiran rasional penyederhanaan dengan membuat regulasi ambang batas partai yang boleh ikut pemilu dengan pemilu berikutnya semestinya tahun 1977. Kegagalan penguasa orde baru untuk program penyederhaan partai dengan regulasi memaksa partai politik yang tidak sejalan dibonsai dengan kekuasaan, termasuk peristiwa Kudeta PSII tahun 1972. Pada peristiwa tersebut aktivis SEPMI yang tidak kuat godaan dunia banyak yang meninggalkan idealism SEPMI.

Tahun 1973, karena Amaruddin ada tugas kantor mengundurkan diri digantikan oleh Zen Munajat Hingga Kongres Ke-3 SEPMI tahun 1981 Di Sukabumi, DPP SEPMI hasil ke-3 Tahun 1981 terpilih Zen Munajat sebagai Ketua Umum DPP SEPMI.

(1981-2000)

Tahun 1980an banyak kaderisasi/pelatihan kepemimpinan dilaksanakan oleh SEPMI sehingga setiap cabang/wilayah pernah melaksanakan tingkat dasar, intermedite, edvansdan coaching instruktur, Jakarta, Pandeglang, Bandung, Sukabumi, Probolinggo, Garut, Batang dan Surabaya.

Awal tahun 1980an juga sudah mulai disosialisasikan azas tunggal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, SEPMI termasuk organisasi pelajar yang tidak setuju dengan azas tunggal dan pelarangan pakaian busana muslimah disekolah-sekolah negeri sampai dengan diberlakukannya UUOrmasNo.8/1985.

Reformasi tahun 1998 aktivis SEPMI mengusung Reformasi Konstitusional, bersama dengan kekuatan ummat Islam lainnya menuntut pencabutan lima paket UU Politik dan Ormas yang bertentangan dengan Konstitusi Pasal 28 dan 29 UU 1945, dan melakukan koreksi terhadap orde baru yang belum melaksanakan UUO 1954 dan Pancasila secara murni dan konsekwen secara konstitusional aksi demontarsi digedung MPR/DPR tahun 1998.

SEPMI dan Masa Depan Ummat dan Bangsa

Di setiap kesuksesan dalam sebuah pertempuran pasti ada syarat-syarat sukses yang terpenuhi. Begitu juga ketika mengalami kekalahan, pasti ada sebab. Sebabnya adalah tidak memenuhi syarat-syarat untuk sukses. Begitulah siklus hidup yang berlaku bagi individu maupun komunitas. SEPMI saat lahirnya sudah mendeklarasikan diri sebagai sebuah lembaga non profit, semua kadernya diberi beban yang sama. Melakukan proses perkaderan demi keberlangsungan lembaga ini di masa-masa yang akan datang. Banyak sekali organisasi yang bubar, kini hanya menyisakan puing sejarah akibat dari proses perkaderan yang tidak berjalan secara maksimal. Ini alasan yang kuat kenapa SEPMI masih ada, meskipun di setiap pergantian kepengurusan di tingkatan komisariat sampai DPP selalu stagnan. Dengan berhasilnya SEPMI melewati setiap etape stagnan itulah kader-kadernya semakin teruji mentalnya di semua tingkatan pengabdian.

Di setiap peringatan Milad SEPMI, semua kader dianjurkan untuk merefleksikan perjalanannya sejauh ini. Beban apa saja yang sudah dimenangkan, mengevaluasi sebab-sebab kekalahan. Memproyeksikan ulang agar kader SEPMI terus eksis di masa yang akan datang . Gerakan sosial di masyarakat adalah gerak untuk memperoleh pengakuan akan identitasnya. Sebab, pengakuan adalah salah satu kebutuhan mendasar manusia, kata Axel Honneth seorang filsuf Jerman. Pernyataan Honneth ini cukup kompatibel dengan semangat SEPMI dalam mengajarkan kader-kadernya untuk mengabdikan diri di semua sektor dan lapisan. Meskipun, terdapat beberapa kejadian yang mendistorsi semangat awal lahirnya SEPMI. Tapi secara umum, dinamika SEPMI adalah gerak agar diakui kontribusi konkritnya untuk ke-Islaman dan ke-Indonesian .

Jelang 58 tahun SEPMI, sebuah usia yang matang akibat menempuh perjalanan yang tidak singkat. Jika dibanding dengan usia republik dan kontribusi SEPMI untuk mengisi kemerdekaan, kita belum terlalu jauh dalam mengayunkan langkah. SEPMI harusnya sudah melakukan imajinasi baru. Memulai sebuah mimpi yang diproyeksikan dengan sungguh-sungguh dan menjawabnya. Tantangan ke depan semakin besar, syarat-syarat untuk sukses juga semakin berat. Itulah sebabnya, satuan waktu yang kita gunakan untuk memproyeksikan kejayaan SEPMI di masa yang akan datang haruslah panjang. Jika kita menginginkan bangsa ini terus ada 1000 tahun lagi, SEPMI harus sudah berimajinasi melampaui usia bangsanya. Merancang agenda-agenda besar jangka panjang. Tahun 2012 Erdogan meletakkan tahapan penting dari keberhasilan ekonomi Turki sekarang. Dia berani melakukan transformasi besar-besaran di Turki, berpindah dari sistem Liberal Sekulerisme ke sistem yang lebih mendekati Islami. Merubah negara the sick man in ureopa yang penduduknya banyak miskin ini menjadi kaya raya. Erdogan membuat rencana yang lumayan panjang.mengevaluasinya setiap 5 tahun sekali. Sebelum Turki merubah kebijakan negaranya, terlebih dahulu mereka mengukur jarak mereka dengan negara-negara maju seperti Amerika dan negara-negara Eropa dalam bidang agama ,ekonomi, teknologi, dan militer.

Jarak itulah yang dijadikan titik tolak untuk mengejar ketertinggalan. Tahun 2018 kemarin, Turki lakukan evaluasi atas rencana mereka dalam mengejar ketertinggalan yang sudah berjalan hampir setengah abad. Dan hasilnya, Turki yang tadinya adalah negara miskin itu kini bermetamorfosis menjadi sebuah kekuatan baru yang cukup disegani dunia. Pelajaran yang bisa diambil oleh SEPMI dari sebuah langkah besar yang dilakukan Erdogan di Turki adalah penggunaan satuan waktu yang panjang dalam merancang agenda besar SEPMI ke depan. Terutama dalam konteks mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Rancangan agenda jangka panjang itu bertujuan agar SEPMI tidak berjalan di tempat. Pergantian kepengurusan tidak hanya siklus tahunan yang tidak menghasilkan apa-apa. Tapi momentum yang cukup strategis untuk memulai. Malik Ben Nabi seorang filsuf Aljazair mengatakan “keberhasilan besar dalam sejarah selalu berkaitan dengan besarnya gagasan sebagai pemicu keberhasilan tersebut”. Erdogan tidak hanya menggunakan satuan waktu yang besar, tapi juga dia cerdas meletakkan gagasan besarnya dalam menatap masa depan Turki yang kita lihat sekarang. Saat kita ingin mendeklarasikan bahwa SEPMI akan terus ada demi mewujudkan Al-Quran dan Sunnah Rasululloh yang nyata. Kita mesti berfikir dalam satuan waktu yang panjang juga.

Jelang 58 tahun SEPMI adalah waktu yang tepat untuk merancang agenda besar dalam satuan waktu yang panjang. Dinamika internal mesti mendewasakan setiap kader. Riak-riak internal haruslah dimaknai sebagai bumbu penyedap dari suatu masakan yang hendak matang. Kita harus sudah selesai secara internal. Agar agenda besar jangka panjang bisa dirancang secara bersama-sama. Dari harapan itulah yang mendorongnya mendeklarasikan sebuah organisasi yang merepresentasikan pelajar-pelajar muslim meskipun mendapatkan tantangan dimana-mana. Sebagai kader, kita semua harus bertanggungjawab dalam merawat harapan yang diberikan pendiri-pendiri SEPMI.

Syarat untuk sukses dan tetap bertahan relatif masih kita pertahankan, yaitu dengan terus adanya perkaderan di tingkatan yang paling bawah. Tapi, kita tidak boleh berjalan di tempat tanpa memikirkan alternatif jalan yang lebih cepat untuk sukses. Membuat proyeksi jangka panjang agar kita tidak tampak berjalan di tempat. “Seorang jenderal yang kuat dengan pasukan yang lemah atau seorang jenderal yang lemah dengan pasukan yang kuat adalah pertanda kekalahan.” Begitu kata Sun Tzu. Antara anggota di lapisan paling bawah dan kader-kader yang diberi amanah berada di posisi-posisi struktural di tingkatan paling atas sampai bawah mesti saling bersimbiosis. Kita harus kuat semunya, tantangan ke depan bagi SEPMI semakin besar dan menantang.

Baru-baru ini di Malaysia dilangsungkan sebuah pertemuan yang inisiatifnya datang dari Mahatir, Erdogan dan Imran dari Pakistan. Konklusi dari pertemuan itu kira-kira ingin mengeluarkan dunia Islam dari keterpurukan. Memang benar, secara empiris dapat kita lihat bahwa hampir seluruh konfilik kemanusiaan di dunia saat ini terjadi di dunia Islam, korbannya tentu ummat Islam juga. Belum lagi gerakan islamophobia yang sudah semakin mewabah bukan hanya di dunia barat tapi juga merangsak masuk ke negara-negara Asia, India, Myanmar, China adalah contohnya dan masih banyak negara Asia yang lain.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang semestinya berperan aktif dalam memproteksi kepentingan ummat Islam justru tidak berdaya dibawah agresi meliter yang dilakukan barat atas dunia Islam. SEPMI tidak boleh terlalu lama hidup di pinggir sejarah, realitas hari ini mendesak kita untuk keluar dan lebih bermanfaat lagi. Bukan hanya untuk ummat dalam negeri, tapi juga berguna bagi dunia. Ini adalah saat yang tepat dalam mewartakan penghapusan penjajahan di atas dunia. Dengan Islam , SEPMI mesti hadir sebagai duta untuk perdamaian dunia. Masa depan bangsa atau dunia dalam cakupan yang lebih besar ada di tangan anak-anak muda.

SEPMI sebagai organisasi yang diisi anak-anak muda yang cerdas sudah saatnya membuat sebuah lompatan jauh. Sambil memenuhi persyaratan-persyaratan untuk sukses dalam menuntaskan tanggung jawab keummatan dan kebangsaan. SEPMI adalah gerakan peradaban, elemen penting dari kebudayaan Indonesia. Terima atau tidak, SEPMI begitu banyak meninggalkan sidik jari bagi perkembangan sejarah Indonesia. Para pendiri dan angkatan awal adalah para ideolog yang meletakkan dasar betapa pentingnya kader harus terdistribusi secara proporsional ke semua sektor.

Orientasi perkaderan SEPMI sudah saatnya dirancang untuk melahirkan kader yang dapat mengisi sektor-sektor yang mengalami defisit. Menjadi pengusaha contohnya, padahal ini juga profesi yang sangat penting dalam menopang terwujudnya masyarkat adil makmur. Meskipun ada satu atau dua organisasi internal yang dibentuk dalam rangka mewadahi alumni-alumni yang berprofesi pengusaha. Belum ada progres yang berarti ke akar rumput (komisariat-komisariat) Menjadikan SEPMI visioner adalah bahagian penting proyeksi masa depan. Agar kita tidak lagi mengandalkan proposal dalam setiap penyelanggara kegiatan. Langkah yang demikian ini, juga bahagian dari mengeluarkan SEPMI dari keputusan-keputusan organisasi yang kerap mendapatkan intervensi dari luar. Caranya adalah, ke depan kurikulum perkaderan kita haruslah dipikirkan ulang, agar kader tidak hanya menumpuk di satu profesi Peradaban dunia terus bergerak, tepat seperti diutarakan Samuel Huntington.

Peradaban seumpama patahan lempeng tektonik yang terus bergeser dan pada waktunya berbenturan satu sama lain sehingga menimbulkan guncangan hebat. Sudah saatnya SEPMI mempersiapkan kader-kadernya menghadapi tantangan global. Kader perlu juga di dorong untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Agar setelah pulang dapat memberikan khasanah baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dalam negeri. Rosulullah dengan tepat mendiagnosa kekalahan dan akibat-akibat kekalahan di perang Uhud itulah pasukan Islam selalu menang di peperangan-peperangan setelahnya. Masa depan SEPMI, kesuksesan hanya akan kita raih jika kita betul-betul memenuhi sebab-sebab agar sukses. (Rustam)

Daftar Nama Ketua Umum  DPP SEPMI

Darimy Yusuf 1964-1965

ARivai Djaelani 1965-1966

Muhammad Mufti 1966-1970

Amaruddin Jaja subita 1970-1973

ZenMunajat Muchsin 1973-1981

Zen Munajat Muchsin 1981-1987

Chairil Anwar 1987-1991

Ferry Asfari 1991-2014

Agus Yusuf Ibrahim 2014-Sekarang

 

Tidak ada komentar