SYARIKAT ISLAM INDONESIA ANTARA PERJUANGAN IDIOLOGIS DAN PRAKTIS POLITIS (Orientasi Pasca Reformasi 1998)

Share:

SEPMI-DPP.OR.ID. Setiap peristiwa kejadian masa lampau (histories) menjadi ibroh/pelajaran bagi orang-orang berfikir, begitupun berbagai peristiwa yang mewarnai perjalanan pergerakan islam tidak luput dari berbagai peristiwa yang menyertainya baik secara individual maupun kelompok.

Peristiwa perjuangan pergerakan islam tidak luput dari dua hal yaitu perjuangan idiologis dan politik praktis, dalam perjuangan idiologis nilai-nilai illahiah,manhaj robbaniyah dan sunnaturrasul menjadi alat ukur akan perjalanan perjuangan idiologisnya(proses) hingga akhir masa, bahkan generasi walan,sisipan,akhiran pun belum tentu menyaksikan keberhasilan maupun kegagalannya,karena perjuangan ini dipandang sebagai proses,sedangkan perjuangan praktis politik adalah perjuangan yang

orientasinya jelas sekali alat ukurnya yakni kekuasaan/politik (legislative,eksekutif,yudikatif) dan dibatasi oleh ruang dan waktu generasinya bisa menikmati bahkan juga tidak menikmati.

Berbagai sumber/referensi telah menjelaskan secara empirik kepada kita ,bahwa perjuangan pergerakan islam secara idiologis tidak pernah mati karena idiologi berjalan secara paralel dengan pendukung, selama ada pendukungnya selama itu idiologi akan tetap hidup, selama dimuka bumi ini masih ada yang memeluk agama islam selama itu pula idiologi islam akan tetap hidup,sedangkan perjuangan praktis politik kaum muslimin berjalan selama keran demokrasi dibuka lebar juga mengalami pasang naik dan pasang surut.

Permasalahan yang dialami oleh pergerakan islam pasca reformasi dapat diidentifikasi upaya perjuangan idiologis masih menggunakan paradigma lama dalam penataan pola fikir,pola sikap dan pola tindak organisasi,jama’ah dan persoalan keumatan , paradigma yang berlangsung selama ini perlu dikritisi,dievaluasi dan disempurnakan sehingga selalu up to date dan mampu menjawab berbagai permasalahan ummat secara holistic dan integral,karena permasalahan ummat semakin lama semakin komplek.

Persoalan perjuangan praktis politik yang dapat diidentifikasi adalah sudah dua kali pemilu (1999,2004) pergerakan SII selalu belum siap secara menyeluruh mengikutinya dan hasilnya dapat kita baca tidak mencerminkan refresentasi sebagai pergerakan islam. Permasalahan yang ada didepan mata kita sebagai bangsa Indonesia bagaimana sebenarnya orientasi pergerakan SII antara idiologis dan praktis politik pasca reformasi 1998?

JATI DIRI SYARIKAT ISLAM INDONESIA (SII)

Sejak berdirinya dan sampai saat ini tujuan SII belum pernah berubah yakni melaksanakan ajaran Islam dengan seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya (kaffah), tujuan ini hendaknya menjadi jiwa,ruh dan spirit bagi pimpinan,kader dan ummat dalam kehidupan sehari-hari, dimanapun,kapanpun,dan dalam kondisi apapun, sehingga tujuan ini menjadi jati diri (identitas).

Perjuangan Idiologis

Idiologi merupakan spirit dan ruh bagi ummat yang memilikinya akan mempunyai arah dan pedoman yang jelas menata kehidupan baik didunia dan akhirat, perjuangan idiologis adalah perjuangan yang teramat panjang, pendek kata kalau perjuangan idiologi politik kaum muslimin adalah dapat tegaknya daulah islamiyah yang alamiah, ada beberapa referensi yang dapat kita lihat bahwa perjuangan idiologi dapat dipetakan sebagai pembangunan peradaban ummat manusia dan seluruh hajat hidup kehidupan manusia sebagaimana pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW,Ia tak tergoda oleh tawaran wanita,harta,onta atau pasilitas lainnya dan bahkan seandainya orang-orang kapir mampu memindahkan matahari dari terbit dari sebelah barat dan terbenam dari sebelah timur, tidak sejengkalkan pun ia meninggalkan perjuangan penegakkan idiologi Islam.

Ada beberapa terminology idiologi pertama memiliki landasan filosofis dan kedua system operasional, menurut terminology ini sebenarnya SYARIKAT ISLAM INDONESIA (SII) yang menyandarkan idiologinya pada islam tidak perlu berfikir berkali-kali untuk memperjuangkan tegaknya idiologi islam di seluruh aspek kehidupan.

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah survey tentang pandangan mahasiswa akan idilogi bangsa, survey dilakukan dibeberapa PTN seperti UI,ITB,UGM,UNAIR, hasilnya menunjukkan 80 % mahasiswa memilih idiologi syariah,15 % memilih idiologi sosialisme dan 5 % memilih idiologi pancasila . Paling tidak survey ini memberikan informasi kepada kita kans dan peluang perjuangan idiologi Islam sangat optimistik.

Pertanyaan kita sekarang bagaimana SII mendesain perjuangan idiologi,sehingga perjuangan ini bukan hanya milik para the founding father/pimpinan/kader tetapi menjadi milik ummat , digerakkan oleh ummat dan diperjuangkan oleh ummat, oleh karena SII harus mampu menganalisis kebutuhan ummat,merasakan suka cita,suka duka ummat, memberdayakan ummat,mengangkat harkat dan martabat ummat dan mensejahterakan ummat dan tinggal bersama ummat.

Perjuangan Politik Praktis

Dalam Al-Qur’an ada sebuah aksioma manusia kalau ingin berkuasa/derajat meningkat harus beriman,beramal sholeh,berilmu dan berbakti pada orang tua. Kalau kita jabarkan dalam kehidupan politik praktis manusia harus punya wibawa, meminjam istilah HMCh.Ibrahim ,wibawa ilmu,iman,fisik,dana,amal,posisi,atau istilah ISQ kesalehan individual,kesalehan social dan kesalehan professional.

Perjuangan politik praktis bukanlah semata-mata menganalisis keinginan,tetapi sinergi perjuangan idiologis dengan prasyarat yang disebutkan diatas dan juga menggunakan analisis SWOT.Fakta empirik menunjukkan beberapa pemenang pilkada di Indonesia banyak menggunakan lembaga riset untuk mengkalkulasi pertimbangan politik yang diambil.



Gerakan Politik Islam

Gerakan Politik Islam akan senantiasa menjadi bayang-bayang yang diharapkan sekaligus juga ditakuti oleh kekuatan-kekuatan politik yang tengah bersaing. Dengan demikian Islam politik akan senantiasa menjadi penentu kepemimpinan nasional kedepan. Hanya tinggal memilih antara maju dengan kekuatan sendiri atau berkoalisi dengan kekuatan nasionalis.

Terdapat beberapa agenda yang harus dilakukan Kaum Syarikat Islam Indonesia (SII) ke depan antara lain:

1. Mengembangkan paradigma politik dari isu politik yang senantiasa menjual ideologi Islam berbentuk memperjuangkan Piagam Jakarta, dikembangkan kepada aspek-aspek yang menyangkut kehidupan real masyarakat berupa program reformasi ekonomi dan supremasi hukum yang ditawarkan kepada masyarakat.

Elit-elit Islam politik yang akan atau yang telah menikmati segala macam kenikmatan politik harus mulai menyadari bahwa realitas politik yang diperankannya belum mampu membawa negara ini kearah yang lebih mensejahterakan rakyat.

Kemiskinan dan penganguran setiap tahun senantiasa meningkat dan harga sembako semakin sulit dan mahal. Sudah saatnya bagi elit politik dan seluruh rakyat untuk melakukanmuhasabah (refleksi diri) dan muraqabah (kerja keras, tekun, jujur, dan cermat) dalam menghadapi persoalan bangsa yang semakin terpuruk sehingga terhindar dari kebangkrutan.

2. Membangun Syura di internal organisasi. Kelemahan gerakan politik Islam senantiasa lebih mengedepankan sistem patrimonial, otoritas tradisional dan kepatuhan, sehingga ketika terjadi konflik internal organisasi lebih cepat memisahkan diri dengan membua/pindah organisasi baru ketimbang melakukan islah dan muhasabah.

3. Gerakan politik Islam membuka ruang yang sangat lebar terhadap munculnya kader-kader muda yang visioner.Pada akhir tahun 2019-an muncul opini pemimpin bangsa dari kaum muda. Opini tersebut lahir mungkin sebagai antitesa dari realitas politik di era reformasi yang antara lain:

Pertama; di era reformasi terjadi perubahan sistem politik tetapi tidak melahirkan perubahan aktor politik, sehingga reformasi dianggap sebagai perubahan kulit saja.

Kedua; munculnya elit-elit poitik yang senantiasa terkait dengan kasus-kasus hukum di masa lalu, sehingga melahirkan sulitnya supremasi hukum dan hukum masih tetap menjadi pelindung sebagian elit.

Ketiga; Masyarakat merasa jemu dengan kepemimpinan bangsa yang lamban dalam menangani krisis.

Keempat; adanya kesulitan anak muda untuk muncul menjadi aktor politik baru karena dihambat oleh aktor lama yang masih ingin tetap bercokol sebagai pelaku politik.

Kelima; kaum Syarikat Islam Indonesia belum terlambat untuk melakukan eksistensi, konsolidasi dan operasi ormas front Syarikat Indonesia Indonesia (FRONT SII) pelajar,pemuda,mahasiswa,kaumperempuan,intelektual, buruh/tani/nelayan, seniman, pendidik, akademisi, ustadz/ustadzah, dai/daiyah, ulama, kyai, ajengan dan yang lainnya.

Saat ini dimana sebenarnya posisi Kaum Syarikat Islam Indonesia penulis lebih cenderung bahwa perjuangan idiologis adalah skala prioritas sebagai mana pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, kekuasaan politik merupakan science efek dari perjuangan idiologis,begitupun para the founding father,tokoh,ulama,pimpinan dan kader telah memulainya dengan dasar,manhaj dan ghoyyah lillahi ta’ala.

Tidak bisa manusia menjadi utama yangsesungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, jikalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya.

Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang sedemikian itu hanyalah bisa tercipta karena ‘tauhid’ saja. (H.O.S. Cokroaminoto)

Penulis: AMMSA

Alumni Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prodi Sejarah

2 komentar: