Peran Ulama Dan Umara Dalam Perspektif Kenegaraan

Share:
ARTIKEL. SEPMI-DPP.OR.ID. Kata ulama adalah jamak dari kata 'alim (orang yg berilmu). Ulama maknanya orang-orang yg berilmu.  Kata ini berasal dari kata 'alima-ya'lamu-'ilman.

Dalam Esiklopedia Islam, definisi ulama adalah orang-orang yg  tahu dan memiliki ilmu pengetahuan Islam dan ke alaman serta memiliki rasa takut kepada Allah SWT. (QS. Al Fathir : 28)

Imam Al Ghazali membagi katagori ulama menjadi dua bagian. Pertama; Ulama Akherat yakni ulama warasul anbiya/pewaris para nabi. Kedua; Ulama Dunia (Ulama Su'). adalah ulama yg tidak mengikuti perjuangan nabi. Karakter ulama Su' adalah mementingkan kepentingan duniawiyah/kepentingan pribadi dan koleganya.

Badrudin H Subky ciri-ciri ulama akherat ialah :
1. Tidak memperdagangkan ilmunya untuk kepentingan duniawiyah.
2. Prilakunya sejalan dg ucapannya dalam menegakan amar ma'ruf nahi munkar.
3. Mengajarkan ilmunya untuk kepentingan akherat.
4. Menjauhi godaan penguasa yg akan menjerat kebebasannya dan mngikuti kemauan penguasa.
5. Senantiasa Khasyah kpd Allah, ta'dzim atas kebesaran Allah SWT serta tawaddu kepadaNya. Hidup sederhana dan berakhlak mulia.
6. Tidak mengeluarkan fatwa sebelum terdapat dalil dalil dari Al Qur'an dan Al Hadist, Ijma dan Qiyas.

Ulama Dunia
Umar Hasyim dalam bukunya Mencari Ulama Pewaris Nabi. Mengengemukakan ttg ciri ciri ulama dunia (ulama Su') yakni :
1. Ulama yg menyembunyikan kebenaran dan menyelewengkan kebenaran  (QS. Al Baqoroh : 159-160; 75-79).
2. Ulama yg berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya. (QS. Al Jum'ah : 5). Kata Ibnu Jarir ulama semacam itu seperti Keledai yg mengangkut kitab kutab  berat tapi tidak tahu isinya. Banyak perpustakaannya tapi ga pernah dibaca, cuma jadi pajangan saja.

Peran Umaro
Umaro bentuk jamaknya dari Amir artinya orang yg menyuruh/memerintah. Dalam kata lain umaro juga disebut Imam Negara ( selain dari Imam Sholat) dalam kepemipinan Mazhab Syiah mereka lebih suka meletakan istilah Imam daripada khalifah atau Amir atau istilah lainnya seperti Rais Am atau mursyid.
Dalam prespektif kenegaraan antara ulama dan umaro memiliki peran yg penting dalam mengelola kemasyarakatan dan kenegaraan.

Rakyat di perintah oleh Allah SWT agar taat kpd Allah, Rasul dan Ulil amri minkum (QS. An Nisa : 59). Sepanjang pemerintah/umaro/amir taat Allah dan RasulNya. Namun demikian, jika Pemrintah menjalankan pemerintahannya melenceng dari tuntunan Allah dan RasulNya, maka tidak ada kewajiban taat kepada Nya.

Karena itu,  ulama harus mengingatkannya/memberikan tausiyah kepada pemerintah karena kebijakannya merugikan rakyat banyak. Jangan sampai ulama justru terkontaminasi oleh keadaan itu sendiri/mengikuti kehendak penguasa.

Para ulama, muballigh, asatidz dan kaum cendikiawan muslim,  diharapkan dalam nenghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat,  berbangsa dan bernegara terhadap tata nilai yg mengaburkan keadaan masyarakat.

Maka langkah ulama dalam mengemban tugas, yakni :
1. Memberikan pandangan/ basyiiron kpd masyarakat.
2. Nadziiron, memberikan kesadaran kritis thd masyarakat/chritical thinking.
3. Da'iyan ilal haq, memanggil kpd kebenaran hakiki yg terkadang dikaburkan oleh kalangan yg tidak suka atau alergi dg Islam/kebenaran. 4. Sirojam Muniiro, memberikan terang/penerangan/penjelasan kpd masyarakat/pemerintah secara rasional dan  obyektif.

Tugas Umaro Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan.
1. Menjaga Penerapan agama yg benar.
2. Menerapkan dan menegakan hukum secara benar/ Law Enforcement.
3. Menegakan sistem keamanan negara berdasarkan UU.
4. Menegakan hak hak rakyat.
5. Jihad memerangi musuh negara.
6. Mendistribusikan dana/keuangan  untuk kepentingan rakyat.
7. Mengambil dana pajak/zakat sesuai kepentingan syariat.
8. Menempatkan orang-orang yang kapabel, berkualitas dan sesuai dengan bidang keahliannya.
9. Melaksanakan menejemen kontrol thdvsemua tingkatan dan lapisan pemerintahan.

Sementara para ulama/ muballighin/asatidz/cendikiawan muslim bersikap.
1. Tetap istiqomah dalam memegang teguh agama.
2. Senantiasa mengajarkan ayat ayat Allah. 3. Mengajarkan hikmah kpd umat/masyarakat. 4. Mengajarkan ilmu pengetahuan. 5. Menegakan Amar ma'ruf dan nahi munkar ( QS. Al Imran : 104, 110).

Penulis
DR. HMS. SUHARY AM, MA
Ketua II Pimpinan Pusat Majelis Pendidikan Syarikat Islam Indonesia. (MPSII)

Tidak ada komentar